Seseorang yang suka menimbun barang, susah membuang barang walaupun barang tersebut sudah tidak terpakai, bukan koleksi dan menurut orang lain tidak bernilai, seringkali disebut sebagai hoarder (pengidap hoarding disorder).
Bagi hoarder, barang kepunyaannya dianggap bernilai dan mungkin akan berguna di kemudian hari meski ia tidak pernah memakainya sampai hari ini.
Barang-barang yang dikumpulkan penderita hoarding disorder beragam, mulai dari koran, buku, makanan, benda kenangan, pakaian, struk belanja, alat rumah tangga, tas plastik, tanaman, hewan, hingga barang-barang bekas yang sudah kotor dan rusak.
Selain karena mengira akan berguna di kemudian hari, hoarder juga menyimpan barang- barang tersebut karena barang-barang tersebut mengingatkan pada suatu peristiwa, dan membuat mereka merasa aman ketika dikelilingi barang-barang tersebut.
Penyebab hoarding disorder belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini, yaitu :
Orang yang suka simpan barang adalah normal sampai beberapa kriteria dari hoarding disorder ini muncul :
Karena penyebab pastinya belum bisa diketahui, maka cara mencegah hoarding disorder juga masih belum diketahui.
Namun, bila hoarding disorder terkait dengan gangguan mental, maka gangguan mental tersebut perlu diatasi sejak dini untuk mengurangi risiko perburukan hoarding disorder. Untuk mencegahnya mungkin kamu bisa belajar untuk :
Duh! Ternyata anggota keluargaku ada yang punya hoarding disorder nih! Dan ternyata kondisinya mengganggu banget karena jadinya rumahku penuh dengan barang yang tidak terpakai…
Kalau aku buang secara “paksa”, kira-kira gimana ya?
“Hoarding itu adalah bagian dari emotional distress jadi mengambil barang mereka tidak akan menyelesaikan masalah tapi malah membuat hubungan jadi buruk sehingga mereka tidak lagi mempercayai kamu.
Penderita hoarding disorder butuh mengambil keputusan untuk diri mereka sendiri agar mereka mau benar-benar melepaskan barang-barang mereka, bukan dipaksa.” - Naomi Ernawati, M. Psi., Psikolog
Lalu apa yang harus dilakukan?
Jadi dibandingkan fokus meminta mereka membuang barang atau membuangnya dengan paksa, cobalah memahami mereka dan memberikan mereka pertimbangan-pertimbangan hingga nantinya mereka bisa menyadari bahwa tindakan itu salah dan timbul keinginan untuk berubah atau mau diobati.
Kalau kamu atau keluargamu mengalami ini dan kamu merasa butuh bantuan psikolog untuk menanganinya, jangan ragu untuk atur jadwal konseling dengan psikolog PRENDS ya! Gunakan kode voucher "MULAIDARIKAMU" untuk dapatkan potongan harga sebesar 50%!